Keuntungan atas Penjualan mata uang asing

Pertanyaan

Sore Tim ATS

Saya mau menanyakan untuk pengisian SPT tahunan OP ,apabila WP menjual harta berupa mata uang asing mendapatan kan keuntungan apakah di perhitungkan sebagai Objek pajak ?mengutip PP No94 thn 2010 pasal 9 ayat 1
"Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing diakui sebagai penghasilan atau biaya berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. "

disini di jelas kan hanya memakai sistim pembukuan sementara Wp kita hanya pencatatan apakah termasuk objek pajak? jika termasuk penghasilan wp perlu mencantumkan di lampiran espt 1770 I hal 2 bagian D no.6?

Trims
Mei Mei

Jawaban

Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan kepada kami, bahwa Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) dalam menghitung pajak penghasilan bisa menggunakan pembukuan ataupun menggunakan pencatatan. Sesuai dengan Pasal 14 Ayat 2  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang menghitung pajak penghasilan menggunakan pencatatan maka biaya-biaya yang dikeluarkan oleh WPOP tidak dapat diperhitungkan. Karena pada norma penghitungan penghasilan neto tersebut dianggap sudah mewakili jumlah biaya yang dikeluarkan.

Pasal 4 ayat (1) huruf I UU PPh (UU Nomor 36 Tahun 2008) menyebutkan bahwa keuntungan karena selisih kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi Objek Pajak Penghasilan. Pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan secara taat asas. Oleh karena itu keuntungan selisih kurs yang diperoleh Wajib Pajak badan maupun orang pribadi harus dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

Pasal 6 ayat (1) huruf e UU PPh menyebutkan bahwa atas  kerugian karena selisih kurs mata uang asing merupakan unsur pengurang penghasilan bruto. Kerugian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dan dilakukan secara taat asas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan :
  1. Kurs tetap, pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi perkiraan mata uang asing tersebut.
  2. Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun. Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurang penghasilan sepanjang Wajib Pajak tersebut mempunyai sistem pembukuan yang diselenggarakan secara taat asas, sesuai dengan bukti dan keadaan yang sebenarnya, dan dalam rangka kegiatan usahanya atau berkaitan dengan usahanya.
 
Namun bagi Wajib Pajak orang pribadi yang memilih mempergunakan norma penghitungan penghasilan netto atas kerugian karena selisih kurs tidak dapat diakui sebagai pengurang penghasilan.

Menurut pendapat kami, antara pembukuan dengan pencatatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam menyelenggarakan pembukuan, pajak penghasilan dihitung berdasarkan penghasilan bersih setelah diperhitungkan biaya-biaya yang telah bapak keluarkan. Dan Biaya-biaya itu pun harus sesuai dengan Pasal 6 UU PPh yaitu mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Jika Wajib Pajak mengalami kerugian maka tidak perlu membayar pajak.

Sedangkan apabila menggunakan pencatatan, kelebihannya lebih mudah dalam menghitung pajak penghasilan sehingga lebih hemat biaya karena tidak perlu menggaji tenaga pembukuan. Sedangkan kelemahan pencatatan adalah ada kemungkinan biaya yang sebenarnya dikeluarkan lebih besar dari pada prosentase norma penghasilan netonya sehingga membayar pajak penghasilan lebih besar dibandingkan yang seharusnya seperti kerugian karena penjualan harta atau bahkan tetap membayar pajak penghasilan walaupun dalam kondisi rugi.

Maka dapat kami simpulkan atas keuntungan penjualan mata uang asing bagi WP Orang Pribadi yang menggunakan pencatatan tetap harus dilaporkan ke dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi. Untuk pengisian di formulir 1770, atas keuntungan penjualan harta berupa mata uang asing dimasukkan ke dalam formulir 1770 I bagian D angka 5.

Demikianlah penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.