MASUK DENGAN AKUN

Gunakan username dan password akun anda untuk login.

LUPA PASSWORD?

Gunakan form dibawah ini untuk meminta perubahan password.

BELUM MEMILIKI AKUN?

Daftar disini jika anda belum memiliki akun.

TANYA KAMI SOAL PAJAK

Anda bingung dengan perhitungan pajak anda? Bingung menghadapi penerapan aturan pajak? Atau masalah-masalah pajak lainnya? Jangan khawatir, ajukan pertanyaan anda disini. Konsultan pajak professional kami akan membantu memberikan jawaban dan saran atas pertanyaan anda.

Hi John, apa yang bisa kami bantu hari ini?

Tulis kan pertanyaan kamu di bawah ini. Gunakan penulisan yang baik dan jelas untuk memudahkan kami mengerti kebutuhan anda.

TERIMA KASIH ATAS PERTANYAAN ANDA

Kami sudah menerima pertanyaan anda. Mohon bersabar, team kami akan mempelajari pertanyaan yang anda kirimkan, dan menghubungi anda kembali dengan jawaban atas pertanyaan anda.

Hubungi kami di +62.21.22604519 untuk respon cepat.

Keuntungan atas Penjualan mata uang asing

Sore Tim ATS

Saya mau menanyakan untuk pengisian SPT tahunan OP ,apabila WP menjual harta berupa mata uang asing mendapatan kan keuntungan apakah di perhitungkan sebagai Objek pajak ?mengutip PP No94 thn 2010 pasal 9 ayat 1
"Keuntungan atau kerugian selisih kurs mata uang asing diakui sebagai penghasilan atau biaya berdasarkan sistem pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia. "

disini di jelas kan hanya memakai sistim pembukuan sementara Wp kita hanya pencatatan apakah termasuk objek pajak? jika termasuk penghasilan wp perlu mencantumkan di lampiran espt 1770 I hal 2 bagian D no.6?

Trims
Mei Mei

Terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan kepada kami, bahwa Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) dalam menghitung pajak penghasilan bisa menggunakan pembukuan ataupun menggunakan pencatatan. Sesuai dengan Pasal 14 Ayat 2  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam 1 (satu) tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) boleh menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

Bagi Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP) yang menghitung pajak penghasilan menggunakan pencatatan maka biaya-biaya yang dikeluarkan oleh WPOP tidak dapat diperhitungkan. Karena pada norma penghitungan penghasilan neto tersebut dianggap sudah mewakili jumlah biaya yang dikeluarkan.

Pasal 4 ayat (1) huruf I UU PPh (UU Nomor 36 Tahun 2008) menyebutkan bahwa keuntungan karena selisih kurs mata uang asing termasuk penghasilan yang menjadi Objek Pajak Penghasilan. Pengenaan pajaknya dikaitkan dengan sistem pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dengan syarat dilakukan secara taat asas. Oleh karena itu keuntungan selisih kurs yang diperoleh Wajib Pajak badan maupun orang pribadi harus dilaporkan dalam SPT Tahunan Pajak Penghasilan.

Pasal 6 ayat (1) huruf e UU PPh menyebutkan bahwa atas  kerugian karena selisih kurs mata uang asing merupakan unsur pengurang penghasilan bruto. Kerugian selisih kurs mata uang asing akibat fluktuasi kurs, pembebanannya dilakukan berdasarkan pembukuan yang dianut oleh Wajib Pajak dan dilakukan secara taat asas. Apabila Wajib Pajak menggunakan sistem pembukuan berdasarkan :

  1. Kurs tetap, pembebanan selisih kurs dilakukan pada saat terjadinya realisasi perkiraan mata uang asing tersebut.
  2. Kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun, pembebanannya dilakukan pada setiap akhir tahun berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia atau kurs yang sebenarnya berlaku pada akhir tahun. Kerugian yang terjadi karena selisih kurs, dapat diakui sebagai pengurang penghasilan sepanjang Wajib Pajak tersebut mempunyai sistem pembukuan yang diselenggarakan secara taat asas, sesuai dengan bukti dan keadaan yang sebenarnya, dan dalam rangka kegiatan usahanya atau berkaitan dengan usahanya.
 
Namun bagi Wajib Pajak orang pribadi yang memilih mempergunakan norma penghitungan penghasilan netto atas kerugian karena selisih kurs tidak dapat diakui sebagai pengurang penghasilan.

Menurut pendapat kami, antara pembukuan dengan pencatatan memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dalam menyelenggarakan pembukuan, pajak penghasilan dihitung berdasarkan penghasilan bersih setelah diperhitungkan biaya-biaya yang telah bapak keluarkan. Dan Biaya-biaya itu pun harus sesuai dengan Pasal 6 UU PPh yaitu mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan. Jika Wajib Pajak mengalami kerugian maka tidak perlu membayar pajak.

Sedangkan apabila menggunakan pencatatan, kelebihannya lebih mudah dalam menghitung pajak penghasilan sehingga lebih hemat biaya karena tidak perlu menggaji tenaga pembukuan. Sedangkan kelemahan pencatatan adalah ada kemungkinan biaya yang sebenarnya dikeluarkan lebih besar dari pada prosentase norma penghasilan netonya sehingga membayar pajak penghasilan lebih besar dibandingkan yang seharusnya seperti kerugian karena penjualan harta atau bahkan tetap membayar pajak penghasilan walaupun dalam kondisi rugi.

Maka dapat kami simpulkan atas keuntungan penjualan mata uang asing bagi WP Orang Pribadi yang menggunakan pencatatan tetap harus dilaporkan ke dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi. Untuk pengisian di formulir 1770, atas keuntungan penjualan harta berupa mata uang asing dimasukkan ke dalam formulir 1770 I bagian D angka 5.

Demikianlah penjelasan dari kami, semoga bermanfaat.

Pertanyaan diajukan melalui website ATS

The Mansion Kemayoran.
Cluster Bougenville, Tower Fontana lantai 17 Zona 2 Ruang 17G2,
Jl. Trambesi Blok D. Komp Bandar Baru, Kemayoran. Jakarta Utara 14410

Phone. +62.21.22604519
Fax. +62.21.22604520

Copyright © 2016-2020, ATS Konsultama
Website by PandavaMedia